Lastbark

when everyone reject the words, I start to bark..

Permalink  :  /
Permalink  :  /
Permalink  :  /
Permalink  :  /
Permalink  :  /
Permalink  :  /
Permalink  :  /
Permalink  :  /
Permalink  :  /
Permalink
Permalink  :  /
Permalink
[Flash 10 is required to watch video]
Permalink  :  /
Permalink
Permalink “GRAFOMANIA”

Ini menurut bapak Milan Kundera :

“Grafomania, yaitu obsesi kompulsif dalam diri seseorang untuk menulis buku, bisa menjadi wabah dalam sebuah tatanan masyarakat, apabila masyarakat tersebut telah berkembang mencapai titik dimana tiga syarat dasar telah terpenuhi, yaitu :

Tingkat kesejahteraan umum yang cukup tinggi, yang memungkinkan orang mencurahkan waktu dan tenaganya untuk kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat.
Tahapan atomisasi sosial yang maju, dan perasaan terisolasi umum yang ditimbulkan dari akumulasi pengisolasian individu-individu di dalamnya.
Tidak adanya perubahan sosial penting yang radikal dalam perkembangan internal sebuah bangsa atau masyarakatnya.
Sebagai contoh, Prancis di era sebelum 1968, adalah negeri yang sudah lama tidak mengalami revolusi sosial atau perubahan drastis dalam tatanan sosialnya. Pada masa itu Prancis memiliki jumlah penulis 21% lebih banyak dari Israel yang masyarakatnya sering bergejolak. Pada masyarakat yang hidup dalam kebosanan dan tanpa ada apapun yang “benar-benar terjadi”, keinginan untuk menulis dalam individu-individu di dalamnya menjadi tinggi. Tiap individu memiliki alasan yang nyaris serupa untuk membenarkan tulisannya, atau untuk membenarkan kegiatan menulisnya, yaitu “melihat dunia dari matanya, dan menceritakan kembali apa yang ia rasakan dari penglihatannya itu”. Sebuah modus paling lazim untuk menjalani hidup yang membosankan.

Namun, “akibat” mentransmisikan semacam kilas balik pada “sebab”. Jadi, apabila pengisolasian umum menyebabkan grafomania pada individu, dan individu yang mengidap grafomania jumlahnya terus bertambah, akan menyebabkan terjadinya grafomania di tingkat massa, yang justru akan memperkuat dan memperburuk perasaan atas pengisolasian umum. Dalam era grafomania, setiap orang mengelilingi dirinya dengan tulisan-tulisannya sendiri, seperti dinding cermin yang memutus segala suara dari luar”.

Sekarang menurut saya :

Di jaman seperti sekarang ini, hampir semua hal bisa dijadikan atau dikatakan atau diklaim sebagai pilihan cara hidup. Lifestyle, dalam bahasa lainnya. Dan seperti yang kita tahu dari ribuan contoh yang sudah ada di masyarakat kita, gaya hidup tidak selalu harus memenuhi syarat-syarat sosial atau kondisi-kondisi ideal tertentu untuk bisa menyebar dalam masyarakatnya.

Sebagai sebuah cara hidup, terutama yang melibatkan image atau pencitraan individu atau kelompok individu tertentu, maka hampir semua jenis lifestyle bisa diadopsi, dibajak, atau dicuri, tanpa perlu memenuhi semua syarat-syarat eksistensinya, seperti pada saat gaya hidup tersebut pertama kali muncul di habitat dan masyarakat aslinya. Satu contoh : budaya punk dari Inggris Raya sana, bisa diadopsi ke dalam masyarakat kita tanpa perlu memenuhi syarat historisnya. Bila di tempat asalnya, budaya skinhead dan punk lahir dari kesenjangan ekonomi dan kakunya kelas-kelas sosial, di sini budaya punk masuk lewat musik, dan (mungkin) fashion.

Kembali ke masalah grafomania. Apabila satu atau sekelompok orang sudah menganggap bahwa menulis atau menjadi orang yang menulis, adalah bagian dari pencitraan dirinya, maka hal itu sudah menjadi lifestyle. Di masyarakat kita yang sama sekali gagal dalam memenuhi tiga syarat mewabahnya grafomania (lihat kembali kata-kata bapak Kundera di atas), toh tetap saja grafomania menjadi wabah. Namun, sebagaimana gaya hidup bajakan lainnya, grafomania di masyarakat kita berada di level yang berbeda. Lebih rendah, tentu saja.

Bila dihadapkan dengan syarat-syarat sosial yang harus dipenuhi untuk adanya wabah grafomania ala pak Kundera, masyarakat kita tidaklah cukup sejahtera untuk bisa memiliki waktu luang dan tenaga ekstra, sehingga memungkinkan untuk berbuat atau menulis tentang hal-hal yang tidak bermanfaat.

Tingkat kesejahteraan masyarakat kita yang rendah juga berpengaruh langsung terhadap kemampuan berpikir dan kemampuan merasa dalam diri individunya. Itu berarti berpengaruh pula pada cara menulis dan orientasi penulisan. Logikanya, kehidupan dalam masyarakat dunia ketiga sangatlah keras, sehingga orang bahkan tidak mampu lagi menulis tentang hidupnya sendiri dengan benar.

Berpindah ke poin berikutnya, atomisasi sosial dalam tatanan masyarakat kita juga tidak berjalan dengan natural, dan penuh kejanggalan. Regenerasi budaya yang tidak berhasil, dikotomi budaya barat vs timur yang dibesar-besarkan, dan kemunafikan masyarakat kita dalam memilah budaya yang datang atau ditawarkan dari luar, melahirkan kotak-kotak sosial yang tidak memiliki garis merah yang jelas dalam menghubungkan antara kelompok masyarakat yang satu dan yang lainnya. Pada level yang terkecil, hal itu akan melahirkan bentuk pengisolasian individu yang absurd. Contoh : masyarakat kita memiliki banyak sekali individu yang penyendiri dan berbakat anti sosial, namun tidak berhasil mengkonversi bakatnya itu menjadi sesuatu yang bernilai (seperti karya seni), karena mereka masih harus ikut kerja bakti di lingkungannya setiap hari minggu pagi. Contoh yang absurd, tapi kalau dipikirkan dengan baik, terasa masuk akal.

Bentrokan budaya tersebut melahirkan kegilaan sosial yang unik dan mungkin tidak terjadi pada masyarakat atau bangsa lain yang budayanya tumbuh secara alami.

Dan dalam lima belas tahun terakhir, bangsa kita memang telah beberapa kali mengalami pergolakan sosial, yang apabila itu terjadi pada bangsa lain, mungkin akan berdampak radikal dan sangat besar dalam pergerakan sejarah dan budaya mereka. Namun pada bangsa kita, berbagai gejolak sosial yang pernah terjadi nyaris tidak merubah apa-apa. Seperti reformasi di tahun 1998, yang akan lebih tepat jika disebut “formalitas sejarah sebuah bangsa”. Berapa belas tahun setelah reformasi digulirkan, masyarakat kita belum bergerak kemana-mana. Baik dalam berpikir, bertindak, maupun bertanggung jawab. Pola hidup masyarakat kita tidak jauh berbeda dengan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Hanya peralatan hidup saja yang berubah.

Kesimpulannya : grafomania seharusnya belum ada di masyarakat kita.

Tapi kita adalah pembajak nomer satu di dunia. Masyarakat kita, tanpa perlu memenuhi syarat-syarat yang diminta oleh Milan Kundera, ternyata tetap menjangkiti dirinya sendiri dengan wabah grafomania. Semua orang suka sekali menulis. Namun seperti layaknya produk bajakan lainnya, grafomania di masyarakat kita mewabah dengan kualitas yang lebih rendah. Cara pandang individu yang hidup di masyarakat yang miskin wawasan dan pengalaman, tentu berbeda. Hal-hal yang masuk dalam pandangan individu tersebut juga berbeda. Jarak pandang pun pasti lebih pendek dan dangkal. Tidak berhenti sampai disitu, definisi grafomania pun diadopsi berbeda. Media yang digunakan tidak lagi sama dengan pengertian aslinya. Kita tidak lagi terobsesi untuk menulis buku dalam bentuk tradisionalnya, yaitu kertas. Kita punya banyak situs jejaring sosial dan media digital lainnya, yang tampak seperti ribuan lembar kertas kosong, siap untuk ditulisi. Namun akhirnya, kemampuan berpikir dan kemampuan merasa yang sialnya juga rendah, menjadikan ribuan lembar kertas itu pun hanya terisi dengan kenihilan. Apologi “melihat dunia dari mata sendiri, dan menceritakan kembali apa yang dirasakan penglihatan”, ternyata hanya melahirkan tulisan-tulisan yang tidak berguna. Bahkan untuk penulisnya sendiri.

Tidak berbeda dengan tulisan ini. Hasil dari pengisolasian individu yang gagal, tercampur tetrohydrocannabinol kelas rendah.